Sabtu, 05 April 2014

Kepemimpinan Jendral Soedirman



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pemimpin aalah seorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain melalui prestise, kekuasaan dan posisi.  Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/ penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya (Henry Pratt Faiechild, dalam Kartini Kartono, 1994 : 33)
Sedangkan, kepemimpinan adalah sebagai kepribadian yang beraksi dalam kondisi-kondisi kelompok.  Tidak saja kepemimpinan itu suatu kepribadian dan suatu geala kelompok; ia juga merupakan suatu proses sosial yang melibatkan sejumlah orang dalam kontak mental dalam mana seseorang mendominasi orang-orang lain (E.S. Bogardus “Leader and Leadership”)
Ciri-ciri pemimpin:
1.     Bertanggung Jawab
Seorang pemimpin memiliki rasa tanggung jawab yang besar di dalam dirinya. Karena dia merasa apa yang telah diamanahkan kepadanya adalah sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. 
2.     Optimisme
Seorang pemimpin akan memandang masa depan adalah suatu kebaikan bagi dirinya dan orang akan mau mengikutinya
3.     Integritas
Melakukan sesuatu sesuai yang dikatakan dan yang dilakukan. 
4.     Menyukai Perubahan
Pemimpin adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubuhan,
5.     Berani menghadapi resiko
Keberanian untuk mengambil resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko.  Sifat berani tersebut membuat ia selalu memandang setiap kejadian adalah peluang dan kesempatan.
6.     Ulet dan pantang menyerah
      Para pemimpin tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya.  Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha.  Dan jelas seorang tidak akan menyerah begitu saja. 
7.     Berdedikasi dan komit
Pengikut akan mengikuti pemimpin yang senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan.
Pemimpin merupakan sosok yang penting dalam menggerakkan suatu system agar dapat berjalan dengan baik.  Sehingga subsistem yang ada menjadi satu kesatuan yang utuh dan memudahkan langkah dalam mencapai tujuan bersama. Indonesia merupakan sebuah sistem yang membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan Roda Bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita dan harapan rakyat Indonesia, yang tertuai dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dan PANCASILA sebagai hakikat hidup bangsa Indonesia..
            Kehidupan bangsa  Indonesia yang semakin kehilangan sosok pemimpin yang loyal, bertanggung jawab,dapat dipercaya dari layar panggung kepemimpinan Bangsa Indonesia., menjadi barometer perhatian yang sangat serius  Rakyat Indonesia yang hidup pada masa perjuangan kemerdekaan, tentu kenal dengan sosok Pemimpin Panglima Jendral Soedirman.  Begitu pun seharusnya sekarang, para generasi bangsa Indonesia akan mengenal sosok Jendral Soedirman.  Bagaimana tidak, tokoh-tokoh Pahlawan Nasional yang diajarkan ketika kita berada di Sekolah Dasar.  Dan salah satu tokoh pahlawan Nasional itu adalah Panglima Jendral Soedirman.

1.2  Tujuan Makalah
a.      Mengenal sosok pemimpin Panglima Jendral Soedirman
b.     Pemenuhan tugas mata kuliah Dinamika Kelompok

1.3  Manfaat Makalah
Dengan melihat kembali sosok pemimpin masa lalu dapat memberikan inspirasi bagi kita generasi bangsa, dalam memimpin bangsa Indonesia ini di kemudian hari.

BAB II
PEMBAHASAN
1.     Kepemimpinan Jendral Soedirman
            Jendral Soedirman adalah panglima TNI yang pertama, tokoh agama, pendidik, tokoh Muhammadiyah sekaligus pelopor perang gerilya di Indonesia.  Beliau lahir di Bodas, Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 24 Januari 1916 dan meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun karena penyakit tuberkulosis dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.
            Pengetahuan militernya diperoleh dari pasukan Jepang melalui pendidikan PETA.  Setelah menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi komandan Batalyon di, Jawa Tengah.  Kemudian menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima. Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TKR).  Soedirman dikenal memiliki pribadi yang teguh pada prinsip dan keyakinan, Ia selalu mengutamakan kepentingan orang banyak dan bangsanya diatas kepentingan pribadinya, bahkan kepentingan kesehatannya sendiri.  Pada masa pendudukan Jepang, Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Ia mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.
            Setelah Perang Dunia II berakhir, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu.  Momen tersebut digunakan Soekarno untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.  Soedirman dan pasukannya bertempur di Banyumas, Jawa Tengah melawan Jepang dan berhasil merebut senjata dan amunisi.  Saat itu pasukan Jepang posisinya masih kuat di Indonesia.  Soedirman mengorganisir batalyon PETA-nya menjadi sebuah resimen  yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang Republik Indonesia yang selanjutnya berperang besar dalam perang Revolusi Nasional Indonesia.  Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel.  Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi panglima Besar TKR/Panglima angkatan Perang RI.  Selanjutnya dia mulai menderita penyakit tuberculosis, namun ia tetap terjun dalam beberapa perang gerilya melawan pasukan NICA Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali setelah Jepang menyerah.
            Perang besar pertama yang di pimpin Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945.  Kemudian dia dilantik sebagai Jendral oleh Soekarno.  Soedirman memperoleh pangkat Jendral tersebut karena prestasinya. Jendral Soedirman tetap terjun ke medan perang saat terjadi agersi militer Belanda II di ibukota Yogyakarta.  Saat itu Ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta karena Jakarta sudah dikuasai oleh Belanda.  Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda tanggal 19 Desember 1948 tersebut.  Dalam perlawanan tersebut, kondisi kesehatan Jendral Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberculosis yang dideritanya sejak lama.  Karena situasi genting tersebut, Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang gerilya.
            Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan ke satu hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis.  Soedirman pulang dari grilya tersebut karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angakatan Perang secara langsung.  Setelah belanda menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konfrensi Meja Bundar tahun1949 di Den Hag, Belanda.  Jendral Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberculosis parah yang dideritanya.  Pada tahun 1997 dia mendapat gelar sebagai Jendral Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa Jendral RI sekarang.
Text Box:
Text Box:  Monumen
J.Soedirman
<Kiri>
Tandu Replika
Pengankat
J.Soedirman
<Kanan>
2.     Landasan Teori
            Beberapa teori menjelaskan tentang munculnya, pemimpin yaitu:
1.     Teori Genetis
Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir jadi pemimpin oleh bakat-bakat alami yang luar biasa sejak lahirnya.  Dia ditakdirkan lahir menjadi pemimpin dalam situasi kondisi yang bagaimana pun juga.  Secara filosofi, teori tersebut pandangan deterministis (pandangan yang menyatakan bahwa segala hal yang terjai di dunia ini sudah ditentukan oleh kondisi-kondisi yang sudah terjadi sebelumnya.  Dengan kata lain, kita tidak bisa menghindari hal-hal yang akan terjadi terhadap diri kita/ sejenis “takdir”.
2.     Teori Sosial
Pemimpin itu harus disiapkan, dididik, dan dibentuk, tidak terlahirkan begitu saja.  Setiap orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan, serta didorong oleh kemauan sendiri.
3.     Teori Ekologis atau Sinestis
Seorang akan sukses menjadi pemimpin, bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, dan bakat-bakat ini sempat di kembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan; juga sesuai dengan lingkungannya..
 



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
            Sosok Panglima Jendral Soedirman adalah sosok pemimpin yang dirindukan oleh Bangsa Indonesia saat ini.  Pemimpin yang rela berkorban demi cintanya terhadap rakyat dan  bangsa Indonesia.  Karena saat ini banyak yang mengaku pemimpin, tetapi hanya memperkaya, memperjuangkan kehidupan pribadi atau kelompoknya saja.  Dikaitkan dengan “Teori Genetis” pemimpin itu dilahirkan bukan dibentuk, Jendral Soedirman memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin alam memperjuangkan bangsa  Indonesia dari penjajahan, mesikipun dia tidak mendapatkan pembelajaran khusus untuk menjadi seorang pemimpin.  Jendral Soedirman patut untuk dijadikan tauladan dalam melanjutkan kepemimpinan Bangsa Indonesia ini.
Saran
            pemimpin adalah tauladan bagi pengikutnya, maka pemimpin harus mampu menjagi contoh bagi pengikutnya.  Pencitraan tidaklah terlalu penting dalam pemenuhan karakter pemimpin, tetapi ketegasan dan kepercayaan adalah sesuatu yang harus dipegang oleh seorang pemimpin. 











 








 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar