BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemimpin aalah seorang yang dengan jalan
memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir
atau mengontrol usaha/upaya orang lain melalui prestise, kekuasaan dan
posisi. Dalam pengertian yang terbatas,
pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan
kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/ penerimaan secara sukarela oleh
para pengikutnya (Henry Pratt Faiechild, dalam Kartini Kartono, 1994 : 33)
Sedangkan, kepemimpinan adalah sebagai
kepribadian yang beraksi dalam kondisi-kondisi kelompok. Tidak saja kepemimpinan itu suatu kepribadian
dan suatu geala kelompok; ia juga merupakan suatu proses sosial yang melibatkan
sejumlah orang dalam kontak mental dalam mana seseorang mendominasi orang-orang
lain (E.S. Bogardus “Leader and Leadership”)
Ciri-ciri pemimpin:
1. Bertanggung
Jawab
Seorang pemimpin memiliki rasa tanggung
jawab yang besar di dalam dirinya. Karena dia merasa apa yang telah diamanahkan
kepadanya adalah sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
2. Optimisme
Seorang pemimpin akan memandang masa
depan adalah suatu kebaikan bagi dirinya dan orang akan mau mengikutinya
3. Integritas
Melakukan sesuatu sesuai yang dikatakan
dan yang dilakukan.
4. Menyukai
Perubahan
Pemimpin
adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubuhan,
5. Berani
menghadapi resiko
Keberanian untuk mengambil resiko dan
keuntungan yang ada di balik resiko.
Sifat berani tersebut membuat ia selalu memandang setiap kejadian adalah
peluang dan kesempatan.
6. Ulet
dan pantang menyerah
Para
pemimpin tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu
berusaha menggapainya. Lalu mereka
mengajak orang lain untuk terus berusaha.
Dan jelas seorang tidak akan menyerah begitu saja.
7. Berdedikasi
dan komit
Pengikut akan mengikuti pemimpin yang
senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa pentingnya
pencapaian tugas-tugas dan tujuan.
Pemimpin
merupakan sosok yang penting dalam menggerakkan suatu system agar dapat
berjalan dengan baik. Sehingga subsistem
yang ada menjadi satu kesatuan yang utuh dan memudahkan langkah dalam mencapai
tujuan bersama. Indonesia merupakan sebuah sistem yang membutuhkan pemimpin
yang mampu menggerakkan Roda Bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita dan
harapan rakyat Indonesia, yang tertuai dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945
dan PANCASILA sebagai hakikat hidup bangsa Indonesia..
Kehidupan bangsa Indonesia yang semakin kehilangan sosok
pemimpin yang loyal, bertanggung jawab,dapat dipercaya dari layar panggung
kepemimpinan Bangsa Indonesia., menjadi barometer perhatian yang sangat serius Rakyat Indonesia yang hidup pada masa
perjuangan kemerdekaan, tentu kenal dengan sosok Pemimpin Panglima Jendral Soedirman. Begitu pun seharusnya sekarang, para generasi
bangsa Indonesia akan mengenal sosok Jendral Soedirman. Bagaimana tidak, tokoh-tokoh Pahlawan
Nasional yang diajarkan ketika kita berada di Sekolah Dasar. Dan salah satu tokoh pahlawan Nasional itu adalah
Panglima Jendral Soedirman.
1.2 Tujuan Makalah
a. Mengenal
sosok pemimpin Panglima Jendral Soedirman
b. Pemenuhan
tugas mata kuliah Dinamika Kelompok
1.3 Manfaat Makalah
Dengan melihat kembali sosok pemimpin
masa lalu dapat memberikan inspirasi bagi kita generasi bangsa, dalam memimpin
bangsa Indonesia ini di kemudian hari.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Kepemimpinan Jendral Soedirman
Jendral Soedirman adalah panglima
TNI yang pertama, tokoh agama, pendidik, tokoh Muhammadiyah sekaligus pelopor
perang gerilya di Indonesia. Beliau
lahir di Bodas, Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 24 Januari 1916
dan meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun
karena penyakit tuberkulosis dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma
Negara di Semaki, Yogyakarta.
Pengetahuan militernya diperoleh
dari pasukan Jepang melalui pendidikan PETA.
Setelah menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi komandan Batalyon
di, Jawa Tengah. Kemudian menjadi
Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi
Panglima. Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TKR). Soedirman dikenal memiliki pribadi yang teguh
pada prinsip dan keyakinan, Ia selalu mengutamakan kepentingan orang banyak dan
bangsanya diatas kepentingan pribadinya, bahkan kepentingan kesehatannya
sendiri. Pada masa pendudukan Jepang,
Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Ia mendirikan koperasi untuk
menolong rakyat dari bahaya kelaparan.
Setelah Perang Dunia II berakhir,
Jepang menyerah tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu. Momen tersebut digunakan Soekarno untuk
mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.
Soedirman dan pasukannya bertempur di Banyumas, Jawa Tengah melawan
Jepang dan berhasil merebut senjata dan amunisi. Saat itu pasukan Jepang posisinya masih kuat
di Indonesia. Soedirman mengorganisir
batalyon PETA-nya menjadi sebuah resimen
yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang Republik
Indonesia yang selanjutnya berperang besar dalam perang Revolusi Nasional
Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan
Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas
dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi
TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi panglima Besar
TKR/Panglima angkatan Perang RI.
Selanjutnya dia mulai menderita penyakit tuberculosis, namun ia tetap
terjun dalam beberapa perang gerilya melawan pasukan NICA Belanda yang ingin
menguasai Indonesia kembali setelah Jepang menyerah.
Perang besar pertama yang di pimpin
Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA
Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945. Kemudian dia dilantik sebagai Jendral oleh
Soekarno. Soedirman memperoleh pangkat
Jendral tersebut karena prestasinya. Jendral Soedirman tetap terjun ke medan
perang saat terjadi agersi militer Belanda II di ibukota Yogyakarta. Saat itu Ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta
karena Jakarta sudah dikuasai oleh Belanda.
Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan
Belanda tanggal 19 Desember 1948 tersebut.
Dalam perlawanan tersebut, kondisi kesehatan Jendral Soedirman sudah
dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberculosis yang dideritanya sejak
lama. Karena situasi genting tersebut,
Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan
perang gerilya.
Ia berpindah-pindah selama tujuh
bulan dari hutan ke satu hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan
sakit hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Soedirman pulang dari grilya tersebut karena
kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angakatan Perang
secara langsung. Setelah belanda
menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam
Konfrensi Meja Bundar tahun1949 di Den Hag, Belanda. Jendral Soedirman meninggal dunia di Magelang,
Jawa Tengah karena sakit tuberculosis parah yang dideritanya. Pada tahun 1997 dia mendapat gelar sebagai
Jendral Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh
beberapa Jendral RI sekarang.

Monumen
J.Soedirman
<Kiri>
Tandu
Replika
Pengankat
J.Soedirman
<Kanan>
2.
Landasan
Teori
Beberapa teori menjelaskan tentang
munculnya, pemimpin yaitu:
1.
Teori
Genetis
Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi
lahir jadi pemimpin oleh bakat-bakat alami yang luar biasa sejak lahirnya. Dia ditakdirkan lahir menjadi pemimpin dalam
situasi kondisi yang bagaimana pun juga.
Secara filosofi, teori tersebut pandangan deterministis (pandangan yang menyatakan bahwa segala hal yang
terjai di dunia ini sudah ditentukan oleh kondisi-kondisi yang sudah terjadi
sebelumnya. Dengan kata lain, kita tidak
bisa menghindari hal-hal yang akan terjadi terhadap diri kita/ sejenis
“takdir”.
2. Teori Sosial
Pemimpin itu harus disiapkan, dididik,
dan dibentuk, tidak terlahirkan begitu saja.
Setiap orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan
pendidikan, serta didorong oleh kemauan sendiri.
3.
Teori
Ekologis atau Sinestis
Seorang akan sukses menjadi pemimpin,
bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, dan
bakat-bakat ini sempat di kembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan;
juga sesuai dengan lingkungannya..
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Sosok Panglima Jendral Soedirman
adalah sosok pemimpin yang dirindukan oleh Bangsa Indonesia saat ini. Pemimpin yang rela berkorban demi cintanya
terhadap rakyat dan bangsa Indonesia. Karena saat ini banyak yang mengaku pemimpin,
tetapi hanya memperkaya, memperjuangkan kehidupan pribadi atau kelompoknya
saja. Dikaitkan dengan “Teori Genetis” pemimpin itu dilahirkan
bukan dibentuk, Jendral Soedirman memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin alam
memperjuangkan bangsa Indonesia dari
penjajahan, mesikipun dia tidak mendapatkan pembelajaran khusus untuk menjadi
seorang pemimpin. Jendral Soedirman
patut untuk dijadikan tauladan dalam melanjutkan kepemimpinan Bangsa Indonesia
ini.
Saran
pemimpin adalah tauladan bagi pengikutnya,
maka pemimpin harus mampu menjagi contoh bagi pengikutnya. Pencitraan tidaklah terlalu penting dalam
pemenuhan karakter pemimpin, tetapi ketegasan dan kepercayaan adalah sesuatu
yang harus dipegang oleh seorang pemimpin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar